JAMBISIBER.COM – Kebakaran hutan yang terjadi pada musim kemarau beberapa waktu yang lalu menyisakan bekas yang sangat menyedihkan. Hutan dipenuhi dengan daun-daun yang meranggas. Dulu, sepanjang mata memandang, yang terlihat adalah hamparan hutan yang menghijau. Sekarang, yang terlihat hanya pohon dengan daun-daun yang mengering. Kebakaran yang entah terjadi karena ulah siapa, tiba-tiba terjaid dan meluas. Hampir semua kawasan hutan yang ada di daerah Jambi mengalami kebakaran.

Kerugian akibat kebakaran itu memang tak dirasakan langsung saat ini. Yang terasa saat kebakaran hanyalah suhu panas dan banyaknya asap. Padahal, akibat kebakaran tersebut menyebabkan kepunahan flora dan fauna yang ada dihutan itu. Untuk mengembalikan kondisi hutan ke kondisi asalnya memerlukan waktu yang tak singkat. Diperlukan waktu bertahun-tahun agar kondisi hutan kembali seperti asalnya. Itupun dengan syarat tidak mengalami kebakaran lagi.

Kebakaran hutan yang terjadi di Jambi tidak saja karena ketaksengajaan, tapi banyak juga yang dilakukan secara sengaja oleh masyarakat. Yang tak sengaja contohnya adalah akibat pembuangan punting rokok yang masih terbakar disembarang tempat dan menyulut api serta membakar ranting dan rumput kering yang ada disekitarnya. Sengaja dilakukan oleh masyarakat untuk membersihkan tanahnya. Membakar hutan merupakan salah satu cara masyarakat untuk mendapatkan lahan hutan. Kegiatan ini dilakukan karena dianggap lebih praktis dan efisien

Mengingat jenis tanah yang terbanyak di Jambi adalah tanah gambut, maka apabila kering akan mudah sekali terbakar. Tanah ini umumnya didominasi oleh bahan-bahan organik seperti akar-akaran yang sudah mati. Pada musim penghujan, tanah gambut selalu tergenang air. Akibatnya, bahan-bahan organiik seperti akar, ranting, dan daun akan lambat sekali mengalami pembusukan. Pada musim kemarau, akar, ranting, dan daun ini mongering, dan ini mudah sekali terbakar. Hanya dengan membuang puntung rokok saja dapat membakar berhektar-hektar hutan.

Baca Juga:   Danrem 042 Gapu Sambut Kunjungan Kapolda Jambi di Makorem

Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi kebakaran hutan ini. Tapi, sampai sekarang masih belum ada cara yang ampuh untuk mengatasinya. Setiap memasuki musim kemarau, setiap itu pula kebakaran hutan terjadi. Demikian pula dengan masyarakat. Mereka telah pula dihimbau untuk tidak membakar hutan untuk membuka lahan perkebunan, tapi sampai sekarang hasilnya belum maksimal juga. Diperlukan penelitian terus-menerus untuk mengatasi hal tersebut.

Hal yang patut diperhatikan oleh pemerintah adalah dengan melakukan tindakan pencegahan secara terus menerus. Selama ini tindakan yang dilakukan pencegahan oleh pemerintah adalah pada saat memasuki musim kemarau. Setelah atau sebelum musim kemarau tindakan hanya dilakukan sambil lalu atau bahkan tak ada tindakan sama sekali. Padahal, tindakan pencegahan pembakaran hutan harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin sadar akan bahaya pembakaran hutan.

Sisa-sisa kebakaran hutan terhampar di sana-sini. Pohon-pohon bekas terbakar hampir terbentang disepanjang jalan. Pokok-pokok pohon bekas kebakaran yang ditebang terhampar luas. Semua menggambarkan begitu ganasnya kebakaran hutan. Dan pohon dan pokok bekas kebakaran itu menyiratkan penderitaan hutan yang berkepanjangan. Kapankah semua ini akan berakhir ? Dapatkah kita menjadikan hutan sebagai lahan yang hijau tanpa ada lagi kebakaran yang membawa nista tidak hanya bagi hutan itu saja, tetapi bagi umat manusia ? (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here