JSICOM — Nilai tukar rupiah hari ini tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan nilai kurs rupiah saat ini mendekati posisi terendahnya pada krisis 1998. Pada Juni 1998, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada titik terendahnya di level Rp 16.950.
Mengutip data Financial Times, Senin (23/3), nilai tukar rupiah hari ini pada pukul 10.00 WIB bergerak tertekan di Rp 16.550,00 terhadap dolar AS atau melemah 650,00 poin (4,09 persen). Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) berada di posisi Rp 16.608 pada posisi 23 Maret 2020.
Sementara itu, dalam transaksi konvensional di perbankan tanah air, sudah ada yang menjual dolar AS di posisi Rp 16.900.
Sama seperti rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia  terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat won Korea melemah 1,70 persen, ringgit Malaysia 1,13 persen, dan rupee India 1,04 persen.
Selanjutnya, peso Filipina melemah 0,89 persen, baht Thailand 0,87 persen dan  lira Turki 0,63 persen, diikuti dolar Singapura yang melemah 0,45 persen serta  yuan China sebesar 0,26 persen. Di sisi lain, penguatan hanya terjadi pada yen Jepang sebesar 0,69 persen serta dolar Hong Kong sebesar 0,04 persen terhadap dolar AS.
Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak melemah terhadap dolar AS. Dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing melemah sebesar 0,25 persen dan 0,49 persen, diikuti poundsterling Inggris yang juga melemah 0,05 persen. Sementara, hanya euro yang menguat sebesar 0,06 persen terhadap dolar AS.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai anjloknya nilai rupiah disebabkan oleh anjloknya perekonomian global akibat kepanikan pasar menghadapi wabah virus corona (covid-19).
“Penyebaran virus corona benar-benar melumpuhkan perekonomian global,” kata Ibrahim, Senin (23/3).
Bahkan, Ibrahim menyebut pelemahan rupiah dapat terus berlanjut, hingga tembus mencapai Rp17 ribu per dolar AS dalam minggu ini. Ibrahim memprediksi rupiah dapat mencapai level tersebut pada 24 hingga 26 Maret 2020.
“Rupiah tanggal 24 atau 26 Maret kemungkinan tembus Rp17 ribu per dolar AS,” ungkapnya.
Diketahui, covid-19 telah menyebar ke lebih dari 160 negara dan telah merenggut lebih dari 8.000 jiwa. Di Indonesia sendiri, jumlah korban jiwa akibat covid-19 terus meningkat hingga mencapai 579 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 49 orang saat ini.
Ibrahim menyebut, terdapat dua cara untuk menguatkan kembali mata uang garuda. Cara pertama, adalah penemuan vaksin virus corona yang dapat membuat pasar global kembali tenang dan tidak panik.
Sementara cara kedua, adalah melakukan upaya lainnya untuk meminimalisir kepanikan investor global.
“Supaya rupiah enggak anjlok, ya investor jangan panik. Ini susahnya, karena yang panik pasar global. Harus ingat, 90 persen saham yang listing di bursa di kuasai asing, kepanikan global akan berpengaruh di pasar dalam negeri,” tuturnya.
Sementara itu, Ibrahim melihat  upaya dari bank sentral, termasuk BI  tidak berdampak signifikan meredam kepanikan pasar secara global ataupun domestik.
“BI saat ini hanya bisa intervensi melalui pasar DNDF, sehingga tidak mungkin bisa menangkal serangan virus corona secara global,” pungkasnya. Menurutnya, rupiah berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp16.520 hingga Rp16.900 per dolar AS pada perdagangan Selasa (24/3) esok hari.

 

Baca Juga:   Gawat! Dua Menteri Jokowi Diduga Positif Corona, Semua Menteri Akan Tes Kesehatan

Sumber: gelora.co   cnnindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here