JAMBISIBER.COM – Harga batu baratermal ICE Newcastle ‘ngamuk’ dan menyentuh rekor tertinggi barunya untuk tahun ini. Harga kontrak si batu hitam yang ramai ditransaksikan di bursa berjangka tersebut naik 4,22% di akhir perdagangan minggu ini pada Jumat (19/3/2021).

Dilansir Jambisiber.com dari CNN Indonesia, dalam sepekan harga batu bara termal acuan global tersebut melesat 6,89% dan ditutup di US$ 93,8/ton. Ini merupakan harga tertinggi dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Terakhir harga batu bara menyentuh level tersebut pada 8 Maret 2019.

Kenaikan harga batu bara mengekor naiknya harga batu bara domestik China. Di pasar batu bara domestik Cina, harga spot Qinhuangdao 5500kcal FOB NAR naik untuk dua minggu berturut-turut minggu lalu.

Harga acuan spot batu bara dengan kalori 5.500 kcal naik 4,9% menjadi RMB 638/ton. Apresiasi tersebut membuat harga batu bara domestik China tetap di atas batas atas yang disebut ‘zona hijau’ sebesar RMB 500 – RMB 570 per ton.

Zona hijau adalah rentang sasaran harga informal yang ditetapkan oleh pihak berwenang yang bertujuan untuk memastikan profitabilitas produsen batu bara domestik marjinal serta produsen listrik.

Otoritas China telah mendorong peningkatan pasokan domestik untuk menurunkan harga yang melesat tajam, sementara pelonggaran kontrol impor (dengan pengecualian larangan impor batu bara Australia) juga telah disetujui sejak pertengahan Desember.

Hubungan Australia dengan China memang belum menemukan resolusi. Menurut kabar terbaru, Perdana Menteri Australia Scott Morrison berkata setiap tindakan China untuk tidak mengimpor batu bara berkualitas tinggi asal Australia hanya akan mengakibatkan kerugian bagi kedua belah pihak.

Hubungan Negeri Kanguru dan Negeri Panda yang belum akur sebenarnya akan menguntungkan untuk para penambang dan eksportir batu bara asal Indonesia mengingat China adalah mitra dagang utama RI.

Baca Juga:   Di Tengah Aksi Penolakan Omnibus Law, Jokowi Terbang ke Palangkaraya

Ekspor bahan bakar mineral termasuk batu bara Indonesia bulan Februari secara volume turun 11% (mom) dibanding bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Februari sebesar 34,2 juta ton sementara di bulan sebelumnya ekspor mencapai 38,5 juta ton.

Namun akibat adanya kenaikan harga batu bara, penurunan volume diimbangi dengan kenaikan total nilai ekspornya. Berdasarkan data BPS, total ekspor bahan bakar mineral RI bulan lalu mencapai US$ 1,97 miliar atau naik 4,92% dari bulan sebelumnya yang hanya US$ 1,88 miliar.

Kenaikan harga batu bara ke US$ 90/ton akan menjadi sentimen positif untuk saham emiten tambang batu bara pada perdagangan hari ini.

Sumber : CNN Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here