JSICOM, KERINCI – Setelah diumumkannya oleh Wakil Bupati Kerinci, Ami Taher pada Rabu lalu kini tiga pasar tradisional di Kerinci telah dibuka.Tiga pasar tersebut yakni balai Pagi Rabu di Belui Kecamatan Depati Tujuh, Balai Kamis di Desa Kecil dan juga Balai Semurup di hari Sabtu.

Tim Jambisiber.com, Sabtu 7 November 2020 pagi tiba di Balai Semurup untuk mengetahui keadaan pasar tersebut setelah ditutup selama dua minggu.

Saat memasuki pasar suasan berbeda dengan dua minggu sebelum ditutup yang mana pada dua minggu sebelum ditutup dilakukan pengecekkan suhu oleh Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kerinci, namun pada hari ini pengunjung pasar tidak dilakukan pengecekan suhu tubuh hanya terilihat beberapa polisi yang bertugas.

Keadaan pasar tidak ramai seperti biasanya, tim jambisiber.com juga sempat melakukan wawancarai beberapa pedagang yang berjualan di balai Semurup yang umumnya bukan pedagang dari Semurup, seperti Ibu Diana seorang pedagang yang beralamat di Kayu Aro tepatnya di Sako Dua kecamatan Kayu Aro Barat.

Menurutnya Diana, pendapatan menurun selama pandemi, ditambah lagi dengan penutupan pasar selama dua minggu yang membuat kurangnya pendapatan yang didapat dibandingkan dengan hari biasanya,

Selain itu katanya, sianya berjualan di pasar-pasar tradisional saja. Ia tidak melakukan penjualan secara online. Beberapa harga dagangannya mengalami penurunan contohnya saja harga cabe yang sebelumnya adalah Rp 40 ribu per Kg sekarang menjadi Rp 35 ribu per Kg.

“untuk stok jualan masih ada, namun untuk penjualan saja yang agak susah. Terkadang habis terkadang tidak, kalo tidak habis di bawa ke sana, kan kita harus bayar ongkos lagi ,” tuturnya.

Berdasarkan info yang diterima hingga saat ini belum ada pembagian masker gratis untuk para pedagang, hanya himbauan yang kerap dilakukan sambil mengelilingi pasar tersebut setiap hari Sabtu serta tempat mencuci tangan yang diletakkan sebelum memasuki pasar.

Baca Juga:   Tak Hafal Pancasila, Finalis Puteri Indonesia Asal Sumbar ini Buka Suara

“Harapan saya walaupun tidak dibagikan masker gratis yang penting pasarnya lancar tidak tutup-tutup lagi dan untuk protokol kesehatan kita sendiri yang jaga. Apalagi pasar ini kan tempat kita nyari makan kalo ditutup gitu kan kita susah juga,” ungkapnya.

Sementara itu berbeda dengan Bapak Anggi seorang penjual ikan yang berasal dari Hiang. Ia mengaku tidak hanya berjulan di pasar Semurup saja namun juga berjualan di pasar pasar tradisional lainnya.

“Ada jualan di tempat lain, balai kami kan banyak tapi balai yang besar kan balai semurup ini saja. Jadi tempat pencarian kami di semurup inilah. Masyarakat semurup keluh kesah dimana tempat belanja kalo ke Kota Sungai Penuh terlalu jauh,”sebutnya.

Selain itu katanya, gara-gara Corona takut keluar rumah. Gara-gara ditutupya pasar ini selama dua minggu jadinya pendapatan juga menurun.***

Penulis: Laura Mustika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here