Beranda NUSANTARA Natuna Primadona yang Jadi Rebutan

Natuna Primadona yang Jadi Rebutan

793
Pulau Sedanau salah satu kepulauan terluar di Indonesia dengan sumber daya yang sangat kaya alam, seperti ikan, ekosistem terumbu karang dan industri minyak bumi. (Foto Halaman Kepri)
JAMBISIBER, Natuna – Laut Natuna belakangan ini sedang memanas. ‘Primadona’ satu ini menjadi sorotan karena dimasuki kapal nelayan China yang dikawal kapal coast guard. Kawasan yang menjadi sorotan ini adalah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna.
Awalnya begini nih. Ada klaim sepihak pemerintah China di wilayah Laut China Selatan. China keukeuh banget wilayah yang dilalui nelayan dan coast guard itu masih teritorinya.
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hukum Laut atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) menjadi pijakan Indonesia dalam menegakkan kedaulatan wilayahnya di Natuna. Pengadilan Internasional di 2016 menyatakan klaim China atas Nine Dash Line atau 9 Garis Putus-putus yang ada sejak 1947 dinilai tidak mempunyai dasar historis.
Nah, garis Putus-putus menjadi batas teritorial laut Negeri Tirai Bambu ini membentang dari utara, menabrak laut Filipina, terus ke selatan, hingga mencaplok sebagian Perairan Natuna milik Indonesia.
Namun Indonesia tidak mengakui konsep 9 Garis Putus-putus yang dinyatakan China itu. Pijakan hukum Indonesia ada dua. Pertama, Konvensi Peserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut pada tahun 1982 atau The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982). Kedua, putusan Pengadilan Arbitrase Laut China Selatan untuk menyelesaikan sengketa Filipina vs China (South China Sea Tribunal) tahun 2016.
Pemerintah Indonesia juga menolak mentah-mentah klaim sepihak dari China. Menurut pemerintah, semua yang dilakukan China ‘jahat’ lantaran sudah melakukan pelanggaran yang termasuk kegiatan illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing dan kedaulatan oleh coast guard atau penjaga pantai China di perairan Natuna. China yang kamu lakukan itu jahat.
Laut Natuna menjadi primadona bahkan sampai-sampai diklaim China. Emang ada apa sih? Tidak heran jika laut Natuna direbutkan oleh Indonesia-China, karena di dalamnya ada beragam potensi hasil laut mulau dari cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan.
Cumi-cumi menjadi komoditas laut dengan potensi hasil paling banyak. Setidaknya ada 23.499 ton potensi cumi-cumi per tahun di Natuna.
Cumi-cumi atau sotong, salah satu kekayaan hasil laut di Natuna. (Foto/net)
“Di datanya itu, potensi per tahunnya lobster ada 1.421 ton, kepiting, 2.318 ton, rajungan 9.711 ton. Cumi-cumi paling banyak nih, dia ada 23.499 ton per tahun,” ungkap Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan Aryo Hanggono, Sabtu (4/1/2020).
Beberapa jenis ikan di Kabupaten Natuna, yang potensial untuk dikembangkan antara lain Ikan dari jenis kerapu-kerapuan, tongkol krai, teri, tenggiri, ekor kuning/pisang-pisang, selar, kembung, udang putih/ jerbung, udang windu, kepiting, rajungan, cumi-cumi dan sotong.
Melihat kekayaan alamnya, wajar kan jika banyak kapal asing ilegal di Natuna?
Jika diibaratkan, Natuna bak Wanita cantik yang jauh di perantauan. Kalau lagi sendirian, pasti banyak lelaki yang ingin mendekatinya. Bagaimana tidak, kekayaan laut di Natuna melimpah namun dibiarkan sendirian tidak ada yang jaga. Nelayan Indonesia sendiri tak banyak yang melaut ke sana karena ukuran kapalnya yang kecil.
“Memang ada penjagaan, cuma ya kan nggak setiap hari, mahal BBM-nya kalau setiap hari. Pada saat kosong, mereka masuk tuh pinter mereka masuk. Selain itu, kapal ikan kita di sana nggak banyak, yang ada juga kecil-kecil,” kata Aryo.
Tidak heran jika kapal asing sering wira-wiri ke Natuna. Selain China, puluhan ribu kapal dari Malaysia, Thailand, Vietnam, juga dikabarkan pernah ‘singgah’ di Laut Natuna.
Isu ini pun menjadi hangat dan menjadi perbincangan banyak pihak. Beberapa menteri angkat bicara memberikan pandangannya soal sikap China di Laut Natuna.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, serta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto malah kayaknya santai menyikapi kasus ini.
Namun eks Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti punya pandangan berbeda. Susi malah lebih galak. Menurutnya menjaga hubungan baik antarnegara bukan berarti harus mengalah. Menjaga hubungan baik tercipta dengan saling menghormati.
Kepala Staf Presiden Moeldoko tak ketinggalan. Ia mengatakan pemerintah melakukan dua pendekatan untuk menyelesaikan permasalahan laut Natuna. Pertama melalui pendekatan diplomasi atau pendekatan politik. Dengan pendekatan ini akan ada penyelesaian lebih lanjut, yaitu pembicaraan tingkat tinggi antara Indonesia-China.
Kedua, memperketat keamanan di laut Natuna. Moeldoko menjelaskan, tindakan China yang mengklaim sepihak laut Natuna tidak bisa dinegosiasikan.
“TNI sedang mengambil langkah-langkah antisipatif dengan melaksanakan berbagai kekuatan untuk mengisi area itu. Bagi saya intinya kedaulatan tidak bisa dinegosiasikan,” tutupnya.
Sejak China mengklaim sepihak atas Laut Natuna, TNI semakin ketat berjaga di kawasan tersebut. Pemerintah pun menambah kapal besar dengan jenis ocean going (lintas samudera) untuk menjaga Natuna.
TNI pun melaksanakan operasi siaga tempur terkait dengan adanya pelanggaran di kawasan tersebut. Operasi siaga tempur dilaksanakan oleh Koarmada 1 dan Koopsau 1 dengan Alutsista yang sudah digelar, yaitu tiga KRI dan satu Pesawat intai maritim dan satu pesawat Boeing TNI AU. Dua KRI lagi masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju Natuna.
Tidak berhenti di situ, pemerintah juga akan mengirim 120 nelayan yang berasal dari Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa untuk menangkap ikan di wilayah laut Natuna. Para nelayan itu akan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di utara Pulau Natuna tersebut.
Jika sudah ada penghuninya, diharapkan wilayah tersebut tidak mudah dimasuki oleh kapal-kapal asing.

Sumber: detik.com

Baca Juga:   Indahnya Air Terjun Telago Jando yang Masih Perawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here