Beranda KESEHATAN Mengenal Penyakit Meningitis yang Sebabkan Glenn Fredly Meninggal, Kenali Gejalanya dari Sekarang!

Mengenal Penyakit Meningitis yang Sebabkan Glenn Fredly Meninggal, Kenali Gejalanya dari Sekarang!

987
Ilustrasi
JSICOM —  Dunia musik Indonesia kembali berduka dengan meninggalnya musisi Glenn Fredly yang disebut karena radang selaput otak atau meningitis.
Musisi Glenn Fredly meninggal dunia pada Rabu, (8/4/2020) sore pukul 18.00 WIB.
Bagi sebagian orang Indonesia, penyakit meningitis mungkin masih asing terdengar. Ketimbang malaria, demam berdarah, dan jenis penyakit tropis lainnya, meningitis memang tak begitu populer di sini.
Meningitis termasuk dalam jenis penyakit infeksi, meningitis adalah satu di antara penyakit infeksi saraf paling mematikan yang sering jadi ancaman bagi negeri maju maupun berkembang, seperti Indonesia.
Sekitar 1,2 juta kasus meningitis bakteri terjadi setiap tahunnya di dunia, dengan tingkat kematian mencapai 135.000 jiwa.
WHO mencatat, wabah meningitis terbesar dalam sejarah dunia terjadi pada 1996–1997 yang menyebabkan lebih dari 250.000 kasus dan 25.000 kematian.
Epidemi terparah pernah menimpa Afrika bagian Sahara dan sekitarnya selama satu abad. Angkanya sampai 100 hingga 800 kasus pada 100 ribu orang.
Di Indonesia sendiri, menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia, pada 2010 jumlah kasus meningitis terjadi pada laki-laki mencapai 12.010 pasien, pada wanita sekitar 7.371 pasien, dan dilaporkan pasien yang meninggal dunia sebesar 1.025.
Gejala dan Penyebab Meningitis
Secara sederhana, meningitis adalah peradangan pada membran yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang.
Secara biologi, membran ini disebut meningen. Peradangan ini disebabkan oleh infeksi dari virus, bakteri, mikroorganisme, atau dalam kasus yang jarang terjadi disebabkan konsumsi tak sehat obat tertentu.
Menurut Healthline, gejala umum yang terjadi pada penderita meningitis berusia dewasa adalah sakit kepala, demam, leher kaku, kejang, sensitivitas terhadap cahaya terang, sering mengantuk, lesu, mual dan muntah, serta nafsu makan menurun.
Sementara gejala virus meningitis pada bayi dapat menyebabkan nafsu makan menurun, mengamuk atau tantrum, sering mengantuk, lesu, dan demam.
Gejala meningitis akibat virus dan bakteri dapat serupa pada awalnya. Tetapi gejala meningitis yang diakibatkan bakteri bisa berkembang secara tiba-tiba.
Di antaranya mual, muntah, sensitivitas terhadap cahaya, sifat lekas marah, sakit kepala, demam, panas dingin, leher kaku, area kulit berwarna ungu yang menyerupai memar, kantuk, dan lesu.
Menurut WHO, meningitis bahkan termasuk ke dalam lima penyakit paling mematikan untuk anak-anak baru lahir di dunia.
Risiko kematian ini turun sedikit untuk anak-anak berusia di atas tiga tahun hingga 16 tahun, hingga 2 persen, tapi kembali naik sampai 19 hingga 37 persen jika terjadi pada orang dewasa.
Sekitar 80 persen kasus pada umur ini disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitides dan Streptococcus pneumonia.
Karena salah satu penyebabnya adalah virus, salah satu cara mencegah terkena penyakit ini adalah dengan vaksinasi. Sejak 1980-an, anak-anak di dunia mulai diberi imunisasi terhadap virus Haemophilus influenzae tipe b, satu dari sekian penyebab meningitis.
Vaksin ini juga diberikan pada calon jemaah haji, mengingat meningitis dapat menular cepat di tempat orang-orang tinggal bersama seperti asrama, atau barak.
Cara lain adalah pemberian antibiotik, untuk kasus meningitis yang disebabkan bakteri. Pemberian ini bisa dilakukan meski kondisi pasien belum dipastikan hasil laboratorium. Sebab, meningitis bakterial bisa bereaksi cepat dan berakibat fatal.

 

Baca Juga:   Masa Pandemi, BKKBN Minta Pasutri Tunda dulu Kehamilan

Sumber: tirto.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here