Beranda DAERAH Kisah Guru Honorer, 12 Tahun Mengabdi di SD Terisolasi dengan Gaji Rp80...

Kisah Guru Honorer, 12 Tahun Mengabdi di SD Terisolasi dengan Gaji Rp80 Ribu Perbulan

663
Hifziah bersama muridnya. Ia mengajar di SDN 81 Desa Mekar Alam, Tanjung Jabung Barat sebagai guru honorer. (Foto Ferdi A/ detik.com)

JAMBISIBER, Jambi – Dua belas tahun Hifziah mengabdi sebagai guru honorer di SD terisolasi di Jambi. Hifziah hanya mendapat gaji Rp 80 ribu setiap bulan.

Hifziah mengajar di SDN 81 Desa Mekar Alam, Kecamatan Seberang Kota, Tanjung Jabung Barat. Jumlah siswa-siswi di SD ini menyusut hingga akhirnya tersisa 40 murid.

“Honor yang saya terima itu 80 ribu setiap bulannya. Tetapi itu bisa diambil setelah 3 bulan. Kalau dulu itu honor saya setiap bulannya Rp 150 ribu, itu dibayar menggunakan ada dana BOS. Sekarang karena murid di sekolah tempat saya mengajar berkurang, jadi honor yang saya terima juga berkurang,” kata Hifziah, Senin (25/11/2019).

Jumlah murid yang menyusut disebabkan jarak tempuh antara sekolah dan permukiman. Sekolah di desa terisolasi itu memang khusus dibangun untuk warga desa.

Dari pusat Kota Tungkal, warga harus menggunakan transportasi sungai ‘pompong’. Di sekolah ini, Hifziah mengajar hampir semua mata pelajaran.

“Kalau dihitung, sekarang sudah 12 tahun mengajar di sekolah ini. Kadang, sempat terlintas harapan mana tahu bisa berubah statusnya. Tetapi, itu hanyalah harapan, yang jelas tujuan saya bagaimana anak-anak di desa ini bisa cerdas dan pintar dengan ilmu-ilmu yang berguna selama belajar di sekolah itu,” ujar Hifziah.

Di sekolah itu, tenaga pengajar hanya berjumlah 7 orang. Tiga orang di antaranya berstatus pegawai negeri sipil (PNS) serta 5 lainnya tenaga honorer.

“Kalau yang berstatus PNS itu hanyalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan ada 1 guru. Selebihnya tenaga honorer semua, termasuk suami saya juga tenaga honorer di sana,” ujar Hifziah.

Selain gaji Rp 80 ribu, Hifziah mendapatkan tunjangan Rp 768 ribu per tiga bulan. Tunjangan ini disebut gaji tidak tetap (GTT).

Baca Juga:   Dampingi Gubernur, Danrem 042/Gapu bersama Wakapolda Jambi Pantau Langsung TPS di Kota Jambi

“Semua tenaga honorer disini dapat GTT itu. Tetapi kan jumlah itu sangat kecil, terkadang kita harus mencari tambahan sampingan juga untuk kebutuhan hidup, karena honor baru bisa diambil setelah tiga bulan lamanya,” sebut Hifziah.

Namun Hifziah mencari tambahan penghasilan dengan menjadi petani pinang. Dia berharap, di Hari Guru ini, kesejahteraan seluruh guru honorer di perdesaan diperhatikan.

“Saya hanya bisa berdoa dan terus berdoa agar semua guru-guru honorer yang mengabdi di desa-desa terpencil di Indonesia dapat terperhatikan. Karena honorer juga manusia butuh pendapatan yang juga layak,” sebut Hifziah.

Sumber: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here