JSICOM — Apa itu kenormalan baru? Orang kebanyakan menyebutnya adalah new normal. Kenormalan baru dilakukan sebagai upaya kesiapan untuk beraktivitas di luar rumah seoptimal mungkin, sehingga dapat beradaptasi dalam menjalani perubahan perilaku yang baru. Perubahan pola hidup ini dibarengi dengan menjalani protokol kesehatan sebagai pencegahan penyebaran dan penularan COVID-19.

Sudah beberapa minggu, bahkan bulan, kita telah melakukan kenormalan baru. Namun, kurva COVID-19 bukannya turun, malah makin menanjak. Apakah kita salah? Jelas. Kesalahannya, kita telah melakukan kenormalan baru dengan mengabaikan syarat-syaratnya. Ini bukan seperti mengurangi, tapi menambah. Seperti semi-semi herd immunity. Pemerintah seolah tidak memperhatikan hal ini.

Presiden mengatakan bahwa kita harus berdamai dengan virus corona. Artinya, kita seolah memberikan ruang untuk itu. Rasanya, kita tidak sedang mencegah virus berkembang. Kita seolah membiarkan virusnya leluasa mendatangi kita. Padahal, virus ini tidak bisa dianggap remeh. Idealnya, langkah yang tepat untuk mengurangi orang terinfeksi virus ini adalah dengan melakukan isolasi ketat. Orang yang tertular virus ini tidak boleh berinteraksi dengan orang lain. Sehingga, penularan akan menurun. Orang yang terkena infeksi virus tadi dirawat sampai sembuh.

Namun cara itu sepertinya sulit bagi kita. Penerapan PSBB kemarin tidak merata. Fakta di lapangan menunjukan seperti itu. Banyak orang yang masih menganggap bahwa virus ini hanyalah hal remeh. Mereka bebal, masih berkumpul ramai tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Bagaimana bisa menerapkan kenormalan baru jika PSBB saja mereka nasih berkeliaran?

Negara-negara lain juga tidak mengambil langkah tegas. Yang diambil adalah langkah biasa, yaitu menyadari virus masih tetap menoleransi penyebarannya, dan melakukan penanganan medis terhadap pasien yang tertular. Bila jumlah pasien sembuh lebih banyak daripada jumlah pasien baru, situasi sudah bisa dianggap baik.

Baca Juga:   Hati-Hati Saat ini Peretas Mengintip Ponsel Anda, Begini Mencegahnya!

Negara lain juga sudah melakukan pelonggaran. Misalnya Italia, Jerman, Inggris, Jepang, dan lain-lain. Apa pertimbangannya? Kurva jumlah pasien mereka sudah mendatar turun. Artinya, setiap hari masih ada pasien baru, tapi jumlah pasien baru ini cenderung menurun. Tren itu sudah terjadi 2-3 minggu terakhir. Ini bisa jadi adalah sebuah syarat untuk melakukan kenormalan baru tadi.

Lalu, bagaimana dengan kita? Kurva kita justru sedang menanjak. Kasus baru terus bertambah, dan angka penambahan pasien baru secara harian juga terus bertambah. Kita masih jauh dari situasi di berbagai negara tadi. Kalau dilihat secara lokal pun masih jauh dari itu. Jakarta, misalnya, masih jauh dari stabil. Pertumbuhan pasien memang tidak tinggi, sekitar 100 orang per hari. Tapi angkanya naik turun. Kadang bisa menembus ke 150 lebih. Artinya, kita memilih untuk melonggarkan diri, sebelum syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi.

Apa pertimbangannya? Sepertinya pertimbangan ekonomi. Toko-toko yang tutup telah membuat banyak orang menganggur. Kalau terus dibiarkan, tokonya bangkrut, pengangguran akan makin banyak. Di sektor-sektor informal juga sudah banyak orang yang tidak lagi punya pemasukan. Bila disuruh bersabar lebih lama, mereka tidak akan tahan.

Pasar-pasar masih buka seperti biasa. Tidak ada protokol khusus yang diterapkan. Setelah ditemukan kasus positif di pasar itu, barulah ada tindakan. Artinya, di berbagai tempat PSBB itu tidak ada, seperti siluman. Adanya hanya dalam berita TV. Dalam situasi itu pengetatan hanya bermakna pemaksaan secara tidak adil kepada sekelompok orang, sementara orang lain dibiarkan. Meneruskan PSBB hanyalah menutupi mata pencaharian mereka.

Jika kita tilik lebih dalam, kita tidak sedang menerapkan protokol penanganan model mana pun. Kita menerapkan protokol kita sendiri, yaitu protokol suka-suka. Sebagian rakyat kita tidak peduli soal adanya wabah. Pemerintah juga tidak sangat serius menanganinya. Kita terbiasa dengan pola seperti ini, yaitu melakukan sesuatu setengah hati dan asal-asalan.

Baca Juga:   Netizen Heboh Gaji Stafsus 51 Juta, Bandingkan Guru Honorer Tak Bergaji

Apa yang akan terjadi setelah ini? Jumlah pasien akan terus bertambah. Kalau melihat tren sekarang, penambahannya akan makin cepat. Kita sedang menuju ke angka pertumbuhan pasien 1000 orang per hari secara nasional. Pada saat itu kita justru melonggarkan diri. Kemungkinan terjadinya ledakan jumlah pasien sangat besar. Tapi kan pelonggaran hanya di daerah tertentu? Ya. Tapi pengaruhnya akan segera melebar ke daerah lain.

Pemerintah membuka tempat-tempat berkumpul dengan syarat akan menerapkan protokol yang ketat. Kenyataannya dalam masa PSBB saja protokolnya tidak dipatuhi, bagaimana mungkin setelah dilonggarkan dengan kenormalan baru, mereka menaati protokol kesehatan?

Pada akhirnya kita sebenarnya hanya akan menuju kepada kenormalan baru yang tidak normal.***

Penulis: M. Syahrizaldi
(Mahasiswa UIN STS Jambi)

Editor: Muhammad Araz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here