JAMBISIBER, Milenial – Hari ini, Jum’at (22/11) ramai di pemberitaan terkait penghasilan dari para Staf Khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo. Seperti diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) 144/2015, penghasilan Stafsus mencapai Rp 51 juta setiap bulan.

Hari ini juga, ada pemberitaan, seorang guru honerer di Kabupaten Ende, NTT menangis di hadapan dewan karena sudah 11 bulan tidak terima gaji.

Alhasil, dua pemberitaan itu viral di media sosial. Netizen membandingkan gaji Stafsus yang “di langit” dengan belum turunnya gaji guru honorer.

Netizen bernama Naylani Hasibuan mengatakan, tadinya merasa bangga kaum milenial dilibatkan dalam pemerintahan. Awalnya dia mengira paling gaji Stafsus 5 jutaan, tapi ternyata gajinya selangit Rp 51 juta per bulan.

“Dengan gaji selangit, tolong dilihat juga dong rakyat bawah yang bekerja tanpa pamrih bahkan gajinya belum dibayar selama 11 bulan jadi guru honorer,” kata dia.

Netizen yang merupakan ibu rumah tangga ini juga mengingatkan pemerintah, masih banyak rakyat hidup dalam garis kemiskinan, lalu dipaksa untuk kenaikan tarif dasar listrik dan iuran BPJS Kesehatan awal tahun depan.

Pemilik akun M. Margani (@MMargani5) menyindir Jokowi yang memberikan gaji gede kepada Stafsus, tapi kurang memberikan perhatian kepada guru honorer.

“Pak Dhe baik banget, banyak yang tiba-tiba ketiban durian runtuh. Maklum sekerang lagi musim panen bagi sebagian kelompok. Tapi yang pasti nasib guru honorer masih tetap “horor dan mencekam”. Kapan ya para pahlawan pendidikan ini mendapatakn gaji yang layak?” sebut dia.

Sementara yang punya akun Herman (@herman_pocong) mengatakan, sehebat apapun Stafsus yang diangkat Jokowi, tidak pantas mereka mendapat penghasilan sebesar itu saat banyak masyarakat masih kesusahan.

Baca Juga:   Tangisan Ayah Galak saat Nikahkan Putrinya, Bikin Terenyuh

“Sehebat apapun dia di luar sana, tetep tak pantas dapat gaji Rp 51 juta dari keringat rakyat yang masih bingung besok bisa makan apa. Mungkin dia potensial jadi Stafsus Presiden, tapi dikasi gaji Rp 51 juta itu yang kurang elok,” ujarnya.

Juga akun Ita Suprapti, membandingkan gaji prajurit yang tidak sebanding dengan gaji Stafsus. “Apalagi dibandingkan dengan gaji prajurit pak, yg sudah jelas pekerjaan nya demi negara..Naik 100k pun nunggu waktu lama,” curhatnya

Netizen Bobby Moore, malah menyarankan gaji Stafsus baiknya untuk merenovasi fasilitas pendidikan yang saat ini butuh perhatian. “Seandainya gaji mereka dikumpulkan dan dibuat merenovasi atau memperbaiki fasilitas pendidikan yg msh kurang layak didaerah2, yg msh blm tersentuh oleh pemerintah mgkn akan lebih bermanfaat,” cuitnya

Berbeda dengan akun Steven Suteki. Netizen ini membandingkan gaji stafsus dengan gajinya sendiri. “Hebat! Profesor Golongan IV D seperti saya saja hanya sekitar 18 juta rupiah per bulan. Peras otak, salah-salah mikir dan kritik harus siap dipecat. Harus bikin buku, jurnal internasional terindeks SKOPUS, penelitian, mengajar juga sampe ndower pun kadang dicuekin mahasiswa. Ada lagi fakta yanng menyedihkan bagi teman-teman guru honorer, guru tidak tetap dll, piro gajine? Sudah kecil kadang tdk lancar per bulan. Miris bukan?”

“Ini anak-anak hebat, maka sudah layak digaji 51 juta per bulan. Hanya di negeri +62 hal ini terjadi? Ayo, kita dukung langkah pemerintah apapun. Pasti bertujuan baik. Mana ada to pemerintah mau berbuat buruk dan menyesengsarakan rakyatnya,”. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here