JAMBISIBER, Muarojambi – Para petani di Jambi mengeluhkan harga karet murah sehingga mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pokok dan biaya sekolah anak yang tinggi.

“Saat ini harga karet Rp6.000 per kilogram dan tidak sebanding dengan biaya perawatan serta pengolahan getah yang tinggi,” kata salah seorang petani karet, Amran di Mestong, Muarojambi, Kamis (21/11)

Meskipun harga karet murah, Amran mengaku tetap tekun menyadap getah karet yang sudah dilakoninya belasan tahun, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya.

“Hasil getah sekarang hanya cukup untuk makan saja bang. Ya, mau bagaimana lagi tidak ada lagi pekerjaan lain. Harganya tidak pernah naik segitu-gitu aja,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah, provinsi dan legislatif duduk bersama mencari solusi dan jalan keluar agar harga karet bisa stabil seperti 2008 yang mencapai Rp11.000 per kilogram. Baginya angka ini setara dengan bahan kebutuhan pokok.

Harga ini tentu tak sebanding dengan harga keutuhan pokok yang setiap saat terus merangkak naik. Untuk itu warga Kecamatan Mestong ini berharap harga karet paling tidak setara dengan harga sembako.

“Kalau bisa harapan kami harga karet sama dengan harga beras Rp11.000 per kilogram. Masa harga karet Rp6.000 sedangkan harga beras sudah Rp12.000,” katanya.

Dikutip dari halaman Bisnis.com, Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Lukman Zakaria, mengatakan, penurunan produksi karet nasional saat ini diperkirakan masih bakal berlanjut.

Ia mengatakan, banyak kalangan petani karet dalam negeri, menyebut nilai harga karet sekarang belum cukup untuk mengembalikan gairah panen para petani.

“Harga di kisaran Rp6.000–Rp7.000 per kilogram, belum cukup untuk petani karet, kenaikan ini belum siginifikan,” kata Lukman, Minggu (17/11) lalu.

Baca Juga:   Peringati HUT TNI Ke-75, Korem Garuda Putih Gelar Aksi Sosial Donor Darah

Menurutnya, harga internasional yang merangkak naik tak terlalu banyak memengaruhi pendapatan petani. Harga di level petani cenderung bertahan ketika pasar mulai bereaksi, namun cepat turun ketika koreksi harga global tengah terjadi.

Terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menyatakan keprihatinan atas kondisi pasar yang dinilainya tak memberi reaksi sesuai kondisi di lapangan. Hal ini tecermin dari harga karet yang belum sesuai harapan, bahkan ketika Indonesia mengumumkan potensi penurunan produksi sebanyak 15% atau sekitar 540.000 ton akibat wabah jamur yang menyerang sekitar 382.000 hektare (ha) area perkebunan karet.

“Petani sudah merasakan kondisi yang mengenaskan dengan kebun yang produksinya turun 15% dan tidak mendapatkan harga yang lebih baik dari pasar internasional,” tutur Moenardji. (ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here