JAMBISIBER, Jakarta – BPJS Kesehatan diprediksi menanggung defisit Rp 77 triliun di tahun 2024 dikarenakan penerimaan iuran hanya Rp 133 triliun, sementara pembayaran klaim diramal mencapai Rp 220 triliun.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, menyebut bahwa hal itu akan terjadi jika tak terjadi perbaikan nilai iuran. Iuran saat ini dinilai terlalu rendah sehingga klaim yang harus dibayarkan begitu timpang.

“Defisit di tahun 2024 akan mencapai Rp 77 triliun kalau tidak melakukan perbaikan iuran,” bebernya dalam rapat gabungan di Komisi XI DPR RI, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia pun mengungkapkan di tahun 2019 jika iuran tak dinaikkan, defisit mencapai 32 triliun. Sementara di 2020 mencapai Rp 39 triliun, di 2021 mencapai Rp 50,1 triliun, di 2022 mencapai Rp 58 triliun, dan di 2023 mencapai Rp 67 triliun.

‎Saat ini, Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) mengusulkan agar iuran seluruh kelas BPJS Kesehatan naik, kelas 1 dari Rp 80.000 menjadi Rp 120.000, kelas 2 dari Rp 51.000 menjadi Rp 75.000, dan kelas 3 dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000.

Sumber: Kumparan

Baca Juga:   Mengenal Penyakit Meningitis yang Sebabkan Glenn Fredly Meninggal, Kenali Gejalanya dari Sekarang!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here