Merangin

Beranda DAERAH Merangin

Enam Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) Tewas Terkubur, Dua Orang Belum Ditemukan

0
Tim Basarnas sedang mencari pekerja tambang emas ilegal yang tertimbun longsor di Desa Pulau Baru, Kabupaten Merangin, Jambi, Minggu (22/12). (Dok Basarnas/Gresi Plasmanto)
JAMBISIBER, Merangin – Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Merangin kembali menelan korban.
Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD dan Masyarakat pada Senin (23/12/2019) dinihari berhasil menemukan 3 orang korban Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang tertimbun tanah di Desa Pulau Baru pada Sabtu (21/12/2019) lalu.
Informasi ini disampaikan oleh Kepala BPBD Kabupaten Merangin, Akmal Zen, yang mengatakan korban pertama ditemukan pada pukul 00.00 WIB, korban kedua ditemukan pada pukul 00.30 WIB dan pukul 02.00 WIB.P
“Sudah tiga orang yang kita temukan dinihari tadi, belum diketahui identitas dari jenazah yang telah ditemukan,” ungkap Akmal Zen.
Namun sudah ada pihak keluarga yang datang dan jenazah sudah kami arahkan ke RSU Kolonel Abundjani Bangko untuk nantinya dilakukan pencocokan dengan keluarga.
“Sudah ada yang datang keluarganya menangis histeris, kami sudah perintahkan keluarga menuju Rumah Sakit untuk dilakukan pencocokan wajah dengan KTP yang mereka bawa,” ungkap Akmal Zen.
Untuk sementara korban yang ditemukan ada 4 orang 1 ditemukan seusai kejadian dan 3 ditemukan dinihari tadi, sehingga tinggal 2 korban lagi, pencarian korban dihentikan pada pukul 03.00 WIB dinihari tadi dan akan dilanjutkan pada pagi ini.
Berikut nama-nama korban yang tertimbun longsor Yusuf, Jegek, Dosol, Dedok, Eko dan Danang. Lima orang merupakan warga Pati Jawa Tengah.
Informasi yang dihimpun, para pekerja yang dibawa Jawa itu dibawa pemilik tambang yang juga berasal dari daerah yang sama.
Saat ini pihak kepolisian sedang mendata, termasuk mencari pekerja lainnya dan pemilik bos tambang yang berhasil melarikan diri.
Maraknya aktivitas penambangan ilegal yang menimbulkan korban jiwa yang terjadi di Merangin, bukan peristiwa yang pertama. Tewasnya para pekerja sudah berulang terjadi.
Pada 3 Desember 2019, aktivitas pendulangan emas ilegal juga menelan korban jiwa. Seorang pekerja bernama Mukmin (60) tewas tertimpa reruntuhan tanah bekas galian tambang. Peristiwa itu terjadi di Sungai Landur, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau, Kabupaten Merangin.
Tak hanya di Merangin, kejadian serupa juga sebelumnya pernah terjadi di Kabupaten Sarolangun. Pada 23 November 2019, tiga orang tewas tertimbun longsor di lubang tambang di Desa Padang Jering, Kecamatan Batang Asai.
Mereka meninggal di lubang galian penambangan saat mendulang kilau emas. Terjadinya rentetan peristiwa tersebut diperlukan tindakan dari aparat untuk menertibkan tambang ilegal. Hal itu perlu dilakukan segera untuk meminimalisir peristiwa serupa.
Tak hanya korban jiwa, Aktivitas tambang emas ilegal yang semakin marak terjadi pada tahun ini telah mengakibatkan kerugian lingkungan yang tidak sedikit.

Sumber : jambiupdate.co | Liputan6.com

Ini Formasi Lengkap CPNS Kabupaten Merangin 2019

0

JAMBISIBER, Merangin –  Pendaftaran CPNS 2019 untuk Kabupaten Merangin telah dirilis, Senin (11/11/2019) malam. Dalam rilis yang dikeluarkan Kemenpan RB menyatakan, kuota Kabupaten Merangin sebanyak 243 formasi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai penerimaan, syarat, dan cara pendaftaran CPNS 2019 di Kabupaten Merangin dapat dilihat pada situs web Pemda http://meranginkab.go.id/. Informasi terkait juga bisa ditanyakan langsung ke kantor BKD Kabupaten Merangin. Alamat BKD Kabupaten Merangin bisa ditemui Jl. Jend. Sudirman No. 1, Bangko, Jambi.

Rincian Formasi lengkapnya dapat diunduh disini: 12_PENGUMUMAN-RESMI-CPNS-KAB-1

Jembatan Penghubung Desa Renah Kemumu Nyaris Ambruk

0
Kondisi jembatan gantung Desa Renah Kemumu, terlihat papan sudah mulai lapuk. f-istimewa
Kondisi jembatan gantung Desa Renah Kemumu, terlihat papan sudah mulai lapuk. f-istimewa

JAMBISIBER, Merangin – Kondisi Jembatan Gantung Sungai Menggabu, Desa Renah Kemumu Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin mulai ambruk. Kondisi kerusakan jembatan tersebut dinilai sangat mengancam pengguna jalan.

“Kondisi ini sangat mengancam pengguna jalan. Gak ada jalan lain selain jalan ini, jembatan ini satu-satunya jalan keluar masuk dan satu-satunya jalan yang bisa dilalui mobil, kalaupun ada warga yang berani menggunakan sepeda motor harus didorong dengan hati-hati,” kata Warga Desa Renah Kemumu yang enggan menyebutkan namanya, kepada jambisiber.com, saat dihubungi melalui pesan whatsapp, Minggu (3/11/2019).

Menurutnya, jembatan tersebut dibangun sejak Tahun 2013 lalu sampai sekarang belum ada perbaikan dari pemerintah. Jalan itu merupakan salah satu akses masyarakat sekarang sudah tidak bisa dilalui. Katanya, jika kondisi kerusakan itu terus dibiarkan, dikhawatirkan bisa memakan korban.

“Tinggal hitung hari akan ambruk karena papan yang gunakan sebagai jembatan kondisinya sudah semakin lapuk. Jadi sudah sangat ngeri untuk dilintasi,” tambahnya.

Dia selaku masyarakat setempat berharap kepada Pemerintah Daerah, untuk segera memperbaiki. Sehingga masyarakat yang berlalulintas bisa nyaman dan aman. Terlebih jembatan itu merupakan akses perekonomian warga desa.

“Perlu penanganan segera, karena jalan tersebut merupakan akses satu-satunya menuju jalan keluar dari Desa,” pungkasnya. [ron]